Arti persahabatan (chapter 1)

Posted by FANS INDONESIA on Sabtu, 23 Agustus 2014



Pagi ini gue ada acara di tempat biasa bersama teman-teman gue. Gue pun mengundang sahabat gue. Kami pun berkumpul dan bercerita tentang masa kecil dulu. Kami semua ketawa bersama saat kami menceritakan tentang diri masing-masing di masa kecil dulu. Memang aneh sih menceritakan masa kecil yang memalukan dulu. Tapi kami percaya satu sama lain. Dan aku pun begitu tapi yang paling kupercaya adalah sahabatku satu-satu nya dia adalah sahabat pertama ku. saat itu aku sedang berlari mengejar seorang pecopet ( wajar aja aku orang nya nekat). Dan ketika pecopet itu sudah benar-benar dekat aku melempar nya dengan sebuah batu kekepalanya, dan itu  membuat pecopet itu sangat marah lalu pecopet itu megeluarkan pisau dari kantong nya, aku tak menyangka kalau pecopet itu menyimpan pisau dikantongnya. Dan saat itu pula pecopet itu mengarahkan pisau nya ke perutku, lalu terjadi teriakan dari orang-orang yang melihat itu.
aku merasa hangat nya darah, lalu aku merenung apakah aku sudah mati, apakah ini rasanya mati,, pertanyaan itu terus terngiang dikepalaku. Lalu ada yang memanggil nama ku.
Rian : “ Napi bangun “ 
lalu aku pun terbangun
Aku : “ apa yang terjadi “
Rian : “ kamu pingsan saat pecopet itu mengarahkan pisau kepadamu “
Aku :  “ apa yang terjadi selanjut nya “
Rian : “ lalu Bima melompat kearah mu dan mendapat luka yang cukup serius “
Aku : “ Dia dimana sekarang “ ( Masih merasa pusing )
Rian : “ dia ada di rumah sakit “
Lalu aku langsung bergegas kesana. Tak lama aku sampai disana keluarga Bima mengusirku dan menyuruhku agar jangan ertemu lagi dengannya. Aku merasa sangat sedih, mengapa dia harus mengorbankan nyawa demi diriku. Sesaat sebelum aku meninggalkan ruangan Bima.
Bima :    dimana Napi, apakah dia baik-baik saja “
Lalu aku berlari ketempat dia.
Aku :  “ mengapa kau lakukan semua ini Bima, Mengapa “ ( meneteskan air mata )
Bima : “  Itu karena akumenganggapmu sebagai sahabat “ ( memukul pundak ku )
Aku :  “ apakah Sahabat itu perlu mengorbakan nyawa seperti ini “
Bima :  “ tenang saja demi sahabat ku, Aku tak akan mati “ ( melebarkan senyuman nya )
Lalu Bima Tak sadarkan diri
Aku : “ Bimaaaaa... “
Sesaat kemudian Dokter datang..
Dokter : “  dia hanya pingsan “
Keluarga Bima : “ Syukurlah ”
Lalu mereka menyuruhku pergi meninggalkan Bima. Dan aku pun pulang dengan perasaan kecewa..

Blog, Updated at: 10.07

0 komentar:

Posting Komentar